Sumber Patronase Politik Elite Agama Terbelah (3)

Desember 23, 2008 at 3:31 pm Tinggalkan komentar

Selain klebun (kepala desa) dan blater (jawara), kekuatan sosial penting yang jadi referensi politik warga Madura adalah kiai. Tokoh agama di kalangan Islam Tradisional (NU) itu memiliki akar di desa-desa. Umumnya mereka memimpin pondok pesantren, menjadi guru agama, dan imam di masjid serta surau-surau di Madura.

Memang, tak ada kiai tertentu dengan pengaruh mutlak di seluruh kawasan di Pulau Madura. Mungkin hanya Syaichona Kholil dari Bangkalan yang pengaruhnya paling kuat dan tetap dihormati hingga sekarang oleh warga Madura khususnya dan kalangan Nahdliyyin pada umumnya. Banyak tokoh NU, termasuk KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU dan Pondok Tebuireng Jombang, yang pernah berguru kepada Syaichona Kholil Bangkalan.

Kiai sebagai sumber patronase politik di Madura bersifat menyebar dan lokal. KH Fuad Amin Imron yang sekarang menjabat Bupati Bangkalan dan Ketua Dewan Syuro PKB Jatim pro Gus Dur termasuk keluarga besar Syaichona Kholil. Dia jadi tokoh penting di lingkungan pemerintahan dan ranah religius dan kultural warga NU Bangkalan. “Kalau pengaruh Ra Fuad (Fuad Amin Imron) sangat kuat. Klebun itu sangat taat pada dia,” ujar seorang jurnalis senior di Bangkalan.

Ternyata sumber patronase politik dan kultural di Bangkalan tak bersifat tunggal. Dari kalangan keluarga besar Syaichona Kholil juga ada tokoh lain dengan tingkat pengaruh tak kecil. Dia adalah KH Imam Bukhori Kholil. Dia sekarang menjadi tokoh penting Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU). “Di Pilgub putaran III saya dilibatkan intensif. Saya berada di belakang Bu Khofifah. Di Pilgub putaran I dan II saya tak dilibatkan sama sekali,” katanya.

Pilgub putaran III, khususnya di Bangkalan, merupakan kompetisi pengaruh sosial dan politik antara KH Fuad Amim Imron dan KH Imam Bukhori Kholil. Keduanya sama-sama berasal dari keluarga besar Pondok Syaichona Kholil. PKB yang mendukung Soekarwo-Saifullah yusuf (Karsa) berhadapan langsung dengan PKNU yang berada di belakang Khofifah Indar Parawansa-Mudjiono (Kaji). “Semua jaringan telah kami gerakkan dan konsolidasikan,” tegas Kiai Imam Bukhori.

Bagaimana dengan Sampang? Sejak awal tahun 1990-an hingga sekarang, pengaruh KH Alawy Muhammad tetap kuat dan tak bisa dinafikan. Pimpinan Pondok At Thoriqi Karongan, Sampang ini tetap jadi ikon warga NU, khususnya yang secara tradisional mendukung PPP.

Memang, pada Pilbup Sampang beberapa waktu lalu, jago yang diajukan PPP kalah atas kandidat yang diusung PKB. Namun demikian, di tingkat akar rumput, nama Kiai Alawy Muhammad tetap populer dan jadi panutan sebagai ulama NU yang istiqomah berjuang bersama PPP.

Tapi pembelahan elite agama (Islam Tradisional) di Sampang tak setajam di Bangkalan di Pilgub Jatim putaran III. Pengaruh kiai NU di Sampang bersifat lebih menyebar dan merata. Kiai-kiai NU yang merapat ke PKNU, misalnya, mulai mengakar dan menyebar pengaruhnya di tingkat kecamatan dan desa.

“Posisi Sampang yang berada di tengah-tengah Madura memperlihatkan karakter keras dibanding komunitas Madura di Sumenep dan Pamekasan. Saya tak mengatakan mereka dalam kategori ekstreminitas dibanding komunitas lainnya di Madura,” kata guru besar Unibraw Malang, Prof Solichin Abdul Wahab, MA, Ph.D.

Kiai sebagai patronase politik yang sangat kuat di komunitas Madura adalah realitas sejarah, sosiologis, dan antropologis yang berlangsung turun-temurun. Dibanding daerah lainnya di Jatim, kiai jadi sumber patronase politik di Madura paling kuat. Kiai menentukan segalanya dalam banyak hal, termasuk pilihan politik. “Yang muncul kemudian adalah konfigurasi politik bersifat vertikal,” kata Dr Himawan Bayu Patriadi MA, staf pengajar Universitas Negeri Jember.

Sejauh pola perpolitikan patron-klien ini tak diwarnai kontaminasi politik berupa premanisme politik, konfigurasi politik bersifat vertikal itu tak menimbulkan banyak persoalan terkait pencerahan demokrasi rakyat di akar rumput. Dalam konteks ini, berlangsung proses pembelajaran demokrasi secara sistemis dan gradual.

“Tapi, kalau yang muncul adalah premanisme politik, seperti melakukan kecurangan saat pilkada dan lainnya, itu jelas kontraproduktif bagi pencerahan demokrasi warga Madura,” tegas Solichin Abdul Wahab.

Perubahan sosial dan politik di Madura dari pola patron-klien yang sangat kental dan vertikal ke pola hubungan independen dan otonom bukan persoalan gampang. Transformasi sosial, kultural, dan politik tak bisa dilakukan dalam tempo 5, 10, atau 15 tahun. “Tak sesederhana itu mengeliminasi budaya politik seperti itu,” tambah Himawan yang meraih doktor bidang perbandingan politik dari Flinders of University Adelaide Australia ini.

Apalagi, kekerasan politik (baca: kompetisi politik dalam intensitas tinggi) di Madura tak hanya berlangsung di ranah politik. Misalnya di tingkatan pilkades, pilkada, dan pemilu. Sejak Pemilu 1971, Golkar dengan sokongan birokrasi sipil dan militer dengan cara merekrut kalangan preman lokal mengintimidasi rakyat untuk merebut kemenangan dari kekuatan Islam Tradisional (NU) yang mendukung PPP.

Kekerasan politik juga kadangkala dipraktikkan kalangan pengusaha dan orang kaya di Madura. Misalnya, terkait dengan pemanfaatan lahan garam, pembebasan tanah untuk kepentingan satu proyek pemerintah atau pihak swasta, bisnis tembakau dengan melibatkan bandol (makelar), dan lainnya.

Bagaimana Pilgub putaran III di Madura? Apakah kompetisi politik dalam intensitas tinggi tetap mewarnai pertarungan pamungkas ini? Yang pasti Madura menentukan masa depan Jatim 5 tahun ke depan.

Iklan

Entry filed under: berita, jawa timur, ka-ji, ka-jimanteb, Karsa, mahkamah konstitusi, MK, pilkada, politik, quick count, Uncategorized. Tags: .

Khofifah Hadiahi Anak Sampang Nama Khofifah Hasyim Muzadi: Ada Upaya Penundaan Pilgub Putaran III

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Desember 2008
S S R K J S M
« Nov   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: